SlaMaNya CiNtA…
March 31st, 2008 by aufklarung-jesus00:06:25
A.M
Thursday,
March 27 2008
Selamanya
Cinta
Waktu
berlalu.
Waktu
ada pada masa yang lalu saat bersamanya,
indah,
sangat-sangat indah.
Waktu
ada pada masa kini tanpa dirinya
disisiku adalah
siksaan yang menyakitkan.
Waktu
ada pada masa yang akan datang adalah harapan terindah dalam hidupku
bersamanya. Ya. Bersama Angel q. Irene Angelina.
Hari
itu akan datang, tentu datang, pasti datang, hari dimana aku adalah
dia dan dan
dia adalah aku, kami adalah satu kesatuan.
dimana
hari-hari
adalah milik aku dan dia.
Selamanya
Cinta.
Waktu
ada pada masa kini….
Jiwaku
tenggelam semakin dalam dikedalaman kerinduan akan dirinya
yang
telah mencuri hati dan jiwaku.
Dingin
yang mengundang gigil, tidaklah lebih kuat dari pada angin malam yang
berhembus sepoi-sepoi, tetapi sambil mendengar dan merasakannnya
bersama kerinduan ini adalah penderitaan yang sangat mendera,
ia
tampak seperti mendengar sebuah paduan suara yang menggema dalam
kesakitan, dan seperti sebuah overture yang dinyanyikan dalam
keletihan sehingga yang terdengar adalah nada-nada yang patah-patah
dan sumbang tidak jelas yang sebentar terdengar buas keras
memekakkan telinga
dan
sekali-kali terdengar melemah tapi tak berbentuk
dengan
irama yang tidak pasti.
Ya,
ini adalah api
kerinduan yang membakar hatiku,
sangat
menyakitkan seperti lautan dengan ombak yang ganas dengan
jangkauannya yang sangat luas, tetapi tetap saja terbatas,
sedangkan
api
kerinduanku tidaklah terbatas, tak bertepi, tak berdasar,
dengan
alat apa aku mengukurnya hingga aku mampu memberi
dosis
yang tepat untuk aku mengobatinya?
Mataku
basah
digenangi airmata.
Didalam
mimpi aku tertidur, didalam mimpi aku bangkit, didalam mimpi aku
tersadar hari sudah pagi, didalam mimpi aku terjaga dan berjalan
menembus pagi yang sepi.
Matahari
yang dilabiri awan menyala lemah menyapa menyinari hamparan air
bening dimana sungai jiwaku berada.
Tak
ada suara, hanya jiwa dan keinginan untuk menjerit sekeras-kerasnya,
melebihi jeritan rajawali diketinggian angkasa, menjerit
sekeras-kerasnya bersama angin pagi yang lemah.
Ini
bukan jeritan yang membosankan dari dunia yang penuh dengan
keputusasaan, bukan paduan suara yang sumbang yang menggema
menyakitkan telinga, tetapi ini adalah jeritan panggilan kembali
kehidupan jiwaku tertawan, kini terasa hampa dan kepada jiwanya yang
telah mencuri hati dan jiwaku yang kemudian mengikatnya dengan
rantai-rantai keindahan dan penuh limpahan cinta dan kasih sayang
yang sangat kuat,
sungguh
kekuatanku tak mampu melepasnya,
seakan-akan
rinduku meluruh bersama jeritan-jeritanku
yang selalu mengiba penuh
cinta.
Malam,
sendiri dalam diam
dan menatap lautan impian,
kesepianku
merasakan kehadirannya.
Angel.
Ya, Irene
Angelina.
Dia
datang mendekati sungai hatiku tanpa rasa malu dia menunduk melihat
air muka sungai jiwaku, jatuh cintalah ia, dengan lembut ia
mengaduk-aduk permukaan air jiwaku memecah kesunyian, lirih dan
berbisik, lembut seperti suara lonceng gereja yang terdengar dari
kejauhan dalam tidurku.
Betapa
indah. Ya. Sangat indah.
Pelan tapi sangat indah.
Mengisi
kekosongan lorong-lorong diam dalam kesendirianku.
Sirnalah
sepiku.
Kemudian
ia mengalihkan pandangannya memperhatikanku dengan iringan senyuman
dan matanya yang sangat indah seperti titik-titik
air embun yang bening dan jernih dipagi hari.
Dengan
lembut ia bertanya seperti suara bidadari kecil di dunia peri
“Maukah
engkau memberi
sebuah ciuman untukku?”
Tanpa
q menjawab, q merengkuhnya, perlahan kumencium bibirnya dengan penuh
rasa limpahan cinta, mencium dan terus menciuminya serasa kelembutan
bibirnya laksana awan putih dipagi hari…
Hilanglah kesendirianku.
Malam
telah luruh bersama seiring datangnya fajar
pagi ketika aku terbangun dan terjaga dari mimpiku dan ternyata Angel
q masih ada disisiku, tidak seperti mimpiku yang sebelum-sebelumnya.
Ia
pergi tanpa meninggalkan jejak, setelah semalaman aku mencumbunya.
Kali ini ia tetap ada disisiku.
Ya.
Angel ku masih tertidur pulas dalam keindahan yang tak
terlukiskan tetapi tergambar jelas dalam benaknya.
Kuperhatikan
ia.
Oh,
betapa cantiknya air mukanya, bibirnya, tubuhnya,
desahan nafasnya.
Kecantikannya
tidak seperti kecantikan duniawi,
yang
berbahaya jika dilihat, tetapi seperti bintang fajar yang merupakan
simbolnya, terang dan penuh irama nafasnya. Unsur melodi dan harmonis
ada padanya, kesan minimalis adalah bahasa tubuhnya yang penuh dengan
imajinasi keteduhan setiap kali memandangnya.
Bukan
sekedar ciptaan yang sempurna
tetapi
suatu pernyataan keagungan sang penciptaNya.
Suatu
keindahan yang tak ternilai harga setiap ukurannya.
Sungguh
sempurna dirinya bagiku.
Dengan
lembut ku kecup
bibirnya perlahan, sembari kubisikkan nada-nada sayang dan cinta
untuk dirinya, sesaat, terbangun ia tanpa kerelaan untuk mengakhiri
mimpinya tadi malam bersamaku.
Penuh
rasa iba, dia seakan berbisik manja “Bercinta
lagi yuk”
Hehe,
seperti sebuah lelucon yang selalu kutunggu-tunggu seperti penantian
sekawanan burung untuk
memperdengarkan
kicauannya dipagi hari…
Kami
pun bercinta sepanjang hari.
Semakin
hari Cinta itu
semakin besar dan tidak bisa lagi untuk tak mempercayai kenyataan
Cinta itu benar-benar ada,
Cinta
itu abadi karena Tuhan sendiri mencintai jiwa-jiwa ciptaanNya dengan
penuh Cinta Ilahi selamanya.
Hari
itu akan datang, tentu datang, pasti datang, hari dimana aku adalah
dia dan dia adalah aku, kami adalah satu kesatuan
didalam Dia, dimana hari-hari adalah milik aku dan dia, yang
diberikan oleh Dia.
Selamanya
Cinta.
Luph
U So Much, Angel. Muacch.